TISNA NEWS.COM

Beyond Inspiring News

Pendampingan Usaha Batik Kalimasada Dan Topeng Nyono Menuju Usaha Mikro Naik Kelas

Wonogiri – Pada tanggal 1 April 2024 tim pengabdian Pusat Studi Pendampingan Koperasi dan UMKM LPPM UNS telah melaksanakan kegiatan pendampingan usaha kepada dua mitra usaha mikro di Desa Joho Kecamatan Purwantoro Kabupaten Wonogiri. Kedua usaha tersebut adalah Batik Kalimasada dan Topeng Nyono. Batik Kalimasada mengembangkan batik dengan beberapa jenis motif dan memberi penekanan terhadap penggunaan pewarna alami. Beberapa motif tersebut adalah remukan dan landmark Wonogiri (gapura, bangunan khas, pohon atau produk unggulan daerah). Batik ini dikelola dan dikembangkan orang pemuda milenial. Usaha batik ini telah mempunyai pasar baik di Pulau Jawa dan luar Jawa. Sementara itu, Topeng Nyono dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar kesenian/budaya. Usaha ini menjadi salah satu pemasok produk topeng di wilayah Jawa Timur.

Pendampingan usaha oleh Malik Cahyadin, S.E., M.Si.,Ph.D; Raden Kunto Adi, S.P., M.P.; Rendi Fathoni Hadi, S.Pt., M.Sc.; dan Nuning Setyowati, S.P., M.Sc.

Beberapa aktivitas pendampingan usaha yang telah dilakukan adalah pengembangan desain dan standardisasi produk batik kalimasada dan topeng nyono, pemasaran dan branding, pewarna alami dan kemasan. Pengembangan desain dan standarisasi produk diarahkan untuk menyajikan motif lokal dan permintaan pasar (konsumen). Desain motif lokal (terutama Wonogiri atau Jawa) akan menjadi ciri khas produk kedua usaha tersebut. Sementara itu, motif yang dibuat atas permintaan pasar (konsumen) bersifat tambahan atau bukan ciri khas produk.

Pendampingan branding dan pemasaran merupakan kegiatan yang banyak diminati oleh para pelaku usaha mikro batik dan topeng. Mereka mempunyai kendala dalam membuka akses pasar dan mengenalkan produk secara lugas kepada para konsumen karena lemah dalam branding dan pemasaran. Selain itu, pemasaran daring menjadi media yang memberi ruang lebih luas kepada para pelaku usaha untuk menambah segmentasi pasar. Selanjutnya, pewarna alami dan kemasan produk lebih diperlukan oleh pelaku usaha batik kalimasada karena segmentasi pasar yang semakin luas. Kedua usaha mikro diatas tidak hanya menjadi salah satu usaha unggulan di Desa Joho tetapi juga menjadi instrumen penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan bahan baku lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Kreativitas usaha yang telah dilakukan oleh para pemilik usaha mikro tersebut dapat menjadi pemicu semangat masyarakat desa terutama para pemuda untuk berwirausaha berbasis sumberdaya lokal. Semakin banyak pemuda yang mampu memanfaatkan sumberdaya lokal untuk pengembangan usaha maka pengembangan perekonomian Desa Joho juga akan bertambah maju. (nhd).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *